BAB faktor kunci dalam keberhasilan dan kelangsungan hidup perusahaan.

BAB I

PENDAHULUAN

We Will Write a Custom Essay Specifically
For You For Only $13.90/page!


order now

 

A. 
    Latar Belakang Masalah

Era globalisasi seperti
sekarang ini banyak perusahaan yang melakukan berbagai cara untuk memperbaiki
reputasi perusahaannya, salah satunya 
yaitu  melalui sistem tanggung
jawab sosial perusahaan (Corporate Social
Responsibility). Saat ini  Corporate Social Responsibility menjadi
fokus perhatian banyak pihak, baik praktisi bisnis maupun akademisi.
Pelaksanaan Corporate Social
Responsibility di Indonesia telah diatur pemerintah dalam Undang-Undang No
40 Tahun 2007, namun sejauh ini pelaksanaanya belum optimal. Hal tersebut
disebabkan karena mayoritas perusahaan di Indonesia belum sepenuhnya percaya
dengan adanya  kegiatan tanggung jawab
sosial perusahaan yang dapat  membantu
dan menjamin  bahwa kegiatan tersebut
saling menguntungkan bagi perusahaan dan masyarakat lokal.

Corporate Social Responsibility merupakan suatu bentuk tanggung jawab perusahaan terhadap masyarakat yang ada
di sekitar lokasi operasioal perusahaan.Lanis dan Richardson (2012) menjelaskan
bahwa CSR dianggap sebagai faktor kunci dalam 
keberhasilan dan kelangsungan hidup perusahaan. Penerapan konsep
pertanggungjawaban sosial bukan lagi bersifat sukarela, melainkan bersifat
wajib bagi perusahaan untuk menerapkannya dan 
mengungkapkannya dalam laporan keuangan tahunan mereka. Kewajiban penerapan
konsep CSR
dianggap bertentangan dengan prinsip dasar CSR dalam sudut pandang PSAK No 1
yaitu kesukarelaan. Akibatnya perusahaan melaksanakan CSR hanya sebagai formalitas.
Perbedaan peraturan mengenai CSR menyebabkan pelaksanaan CSR di Indonesia belum
efektif dibandingkan dengan negara lainnya. Begitu juga dalam hal
pengungkapannya, perusahaan merasa terbebani oleh dua beban yang berbeda yaitu
beban CSR dan beban pajak (Setiadji dalam Natasya, 2014).

   Banyak kasus sosial dan lingkungan di Indonesia
yang menunjukkan penting nya Corporate Social Responsibility (CSR) antara lain
kasus PT freeport Indonesia yang sejak memulai operasinya pada tahun 1969 sudah
menimbulkan dampak buruk terhadap lingkungan, PT Unocal ( Perusahaan
Pertambangan Minyak ) yang beroperasi sejak tahun 1970-an di daerah Marangkayu
Kutai Timut, kasus pencemaran lingkungan Lapindo pada tahun 2006, serta kasus
pencemaram di Teluk Buyat oleh PT. Newmont Minahasa Raya pada pertengahan tahun
2004. (Nor Hadi,2011: 2-14). 

               Perusahaan
yang digunakan dalam penelitian ini adalah perusahaan pertambangan. Perusahaan
pertambangan adalah perusahaan yang memperoleh dan mengolah barang tambang
seperti minyak bumi dan batu bara. 
Perusahaan
yang operasi utamanya memiliki dampak sosial lingkungan yang signifikasi terhadap
sumber daya alam yang kegiatannya

sangat
mungkin melakukan kerusakan terhadap lingkungan apabila tujuan kegiatan
operasionalnya hanya mementingkan keuntungan saja

Tabel
I.1

Corporate
Social ResponsibilityDisclosure Perusahaan
sektor Pertambangan yang terdaftar di BEI periode 2014-2016 berdasarkan
Indikator Global Reporting Initiative (GRI) versi 3.0

 

No

Kode Emiten

Nama Perusahaan

Corporate Social Responsibility Disclosure

2014

2015

2016

1

ADRO

Adaro Energi Tbk

0,31

0,31

0,42

2

ELSA

Elnusa Tbk

0,16

0,34

0,28

3

CTTH

Citatah Tbk

0,16

0,14

0,19

4

GEMS

Golden Energi Mines Tbk

0,03

0,08

0,08

5

MYOH

Myoh Technology Tbk

0,11

0,11

0,12

6

ITMG

Indo Tambang Raya Megah Tbk

0,09

0,09

0,09

7

PTBA

Tambang Batu Bara Bukit Asam Tbk

0,2

0,22

0,22

8

RUIS

Radiant Utama Interinsco Tbk

0,01

0,03

0,03

9

TINS

Timah Tbk

0,25

0,25

0,41

10

ESSA

Surya Esa Perkasa Tbk

0,16

0,15

0,19

11

KKGI

Resource Alam Indonesia Tbk

0,17

0,19

0,15

12

TOBA

Toba Bara Sejahtera Tbk

0,24

0,2

0,15

Rata-rata

0,16

0,18

0,19

Sumber : Penulis,2017

Berdasarkan tabel I.1  pengungkapan CSR perusahaan pertambangan yang
terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2014-2016 dengan beberapa kriteria yang
telah dibuat oleh penulis sebanyak 42 perusahaan pertambangan menjadi 12
perusahaan yang sesuai dengan kriteria yang dihitung berdasarkan GRI Versi 3.
Untuk tahun 2014 rata-rata pengungkapan CSR yaitu sebesar 0,16 (16%),  pada tahun 2015 meningkat  menjadi 0,18 (18%), dan pada tahun 2016
mengalami kenaikan  sebesar 1%, menjadi
0,19 (19%). Dari perhitungan tersebut disimpulkan bahwa selama 3 tahun rata-rata
CSR selalu meningkat.

Tindakan
nyata dalam melakukan agresivitas pajak ataupun penghindaran pajak misalnya
dengan cara penghindaran pajak secara yuridis yaitu dengan melakukan perbuatan
dengan cara sedemikian rupa sehingga tindakan yang dilakukan tidak terkena
pajak. Perusahaan biasanya melakukan dengan cara memanfaatkan kekosongan atau
ketidakjelasan undang-undang yang ada (wikipedia), contohnya pegawai diberi
tunjangan beras (natura/kenikmatan).

Tindakan manajerial
yang dirancang untuk meminimalkan pajak perusahaan melalui kegiatan agresivitas
pajak menjadi fitur yang semakin umum di lingkungan perusahaan di seluruh dunia
(Lanis dan Richardson,2013). Tindakan agresivitas pajak tersebut menyeimbangkan
antara biaya dan manfaat yang diperoleh.

       Menurut Peraturan Direktur Jenderal Pajak
Nomor : PER – 31/PJ/2012 bab IV pasal 8 ayat 1 b menyatakan bahwa yang tidak
termasuk dalam pengertian penghasilan yang dipotong PPh Pasal 21 adalah
penerimaan dalam bentuk natura dan/atau kenikmatan dalam bentuk apapun yang
diberikan oleh Wajib Pajak atau Pemerintah, kecuali penghasilan sebagaimana
dimaksud dalam pasal 5 ayat (2).

“Pemberian
tunjangan tidak boleh dibebankan sebagai biaya maupun penghindaran yang
dilakukan dengan cara perusahaan bekerjasama dengan yayasan untuk penyaluran
tunjangan tersebut. Perusahaan memberi uang kepada yayasan lalu yayasan
menyalurkannya kepada pegawai dalam bentuk beras. Jadi, pegawai tetap
mendapatkan beras dan hal itu dibebankan sebagai biaya sehingga pajaknya
berkurang.”

            Tindakan perusahaan dalam hal meminimalkan pembayaran pajak tidak
sesuai dengan harapan masyarakat karena pembayaran pajak perusahaan memiliki
implikasi
penting bagi masyarakat dalam hal pendanaan barang publik seperti pendidikan,
pertahanan nasional, kesehatan masyarakat, Lanis dan Richardson (2013). Pandangan masyarakat
mengenai perusahaan yang melakukan tindakan agresivitas dianggap telah
membentuk suatu kegiatan yang tidak bertanggung jawab secara sosial dan tidak
sah, Lanis
dan Richardson (2013).Tindakan tersebut secara tidak langsung menjadi perhatian
publik yang mana bisa mengubah presepsi masyarakat terhadap perusahaan menjadi
negatif. Selain itu perusahaan masih dibebani mengenai tanggung jawab sosial
perusahaan atau CSR yang akan memberi dampak negatif dimata masyarakat apabila
perusahaan tidak melakukan tanggung jawabnya tersebut seperti yang diharapkan
oleh masyarakat.

            Meningkatnya tindakan agresivitas pajak di berbagai belahan dunia
tidak menutup kemungkinan terjadi kasus-kasus yang merugikan pemerintah,
khususnya di bidang perpajakan. Di Indonesia, kasus-kasus yang terjadi antara lain adalah kasus pada Real Estate
Indonesia (REI) yang dituduh oleh Direktorat Jenderal (Ditjen) Pajak terkait
dokumen transaksi pembayaran pajak yang diduga banyak melakukan penghindaran
pembayaran Pajak Penghasilan dalam artikel Kusuma (2013). Kasus lainnya adalah
pada perusahaan pertambangan seperti PT Bumi Resources Tbk, PT Kaltim Prima
Coal (KPC), dan PT Arutmin Indonesia yang diduga oleh Ditjen Pajak melakukan
manipulasi pajak pada tahun 2007 sebesar Rp2,1 triliun (Tjiptartdjo, 2010) dalam Natasya (2014) .

            Berdasarkan beberapa kasus di atas, tindakan agresivitas pajak
merugikan pemerintah, seharusnya warga negara taat membayar pajak dalam rangka
menjalankan kewajiban negara, baik wajib pajak orang pribadi maupun badan.
Sebagaimana yang tercantum dalam Undang-Undang 1945 pasal 23A yang menyatakan
bahwa pajak dan pungutan lain yang bersifat memaksa untuk keperluan negara
diatur dengan undang-undang. Namun tanpa disadari dalam melakukan pembayaran
pajak yang jumlah pembayarannya dapat ditentukan oleh wajib pajak itu sendiri
memungkinkan wajib pajak mencari alternatif dengan meminimalisasi pembayaran
pajak.

Tabel I.1

Perhitungan Agresivitas pajak menggunakan proksi Effective Tax Rate (ETR) diperusahaan
pertambangan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia Tahun 2014-2016

 

No

Kode Emiten

Nama Perusahaan

ETR

2014

2015

2016

1

ADRO

Adaro Energi Tbk

0,44

0,46

0,38

2

ELSA

Elnusa Tbk

0,25

0,25

0,24

3

CTTH

Citatah Tbk

0,44

0,59

0,39

4

GEMS

Golden Energi Mines Tbk

0,35

0.60

0,26

5

MYOH

Myoh Technology Tbk

0,26

0.26

0,28

6

ITMG

Indo Tambang Raya Megah Tbk

0,24

0.55

0,32

7

PTBA

Tambang Batu Bara Bukit Asam Tbk

0,23

0.24

0,24

8

RUIS

Radiant Utama Interinsco Tbk

0,28

0.39

0,40

9

TINS

Timah Tbk

0,34

0.40

0,32

Tabel 1.2

Perhitungan Agresivitas pajak menggunakan proksi Effective Tax Rate (ETR) diperusahaan
pertambangan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia Tahun 2014-2016

 

N0

Kode

Nama Perusahaan

2014

2015

2016

10

ESSA

Surya Esa Perkasa Tbk

0,24

0.29

0,37

11

KKGI

Resource Alam Indonesia Tbk

0,37

0.38

0,36

12

TOBA

Toba Bara Sejahtera Tbk

0,34

0.34

0,44

 

Rata-Rata

0,32

0,40

0,33

Sumber : Penulis,2017

Berdasarkan
Tabel di atas diperoleh rata-rata dari perhitungan ETR yang menggunakan rumus
Beban pajak penghasilan dibagi dengan pendapatan sebelum pajak. Pada tahun 2014
memperoleh rata-rata sebesar 0,32 atau 32% , pada tahun 2015 terjadi kenaikan
sebanyak 8% dari tahun sebelumnya yang  memperoleh
rata-rata sebesar 0,40 atau 40% dan pada tahun 2016 terjadi penurunan sebanyak
7% menjadi 0,33 atau 33%.

Sesuai dengan kriteria yang telah dibuat perusahaan yang memiliki ETR
antara 0-1 sehingga dapat mempermudah dalam perhitungan, dimana semakin rendah
nilai ETR maka perusahaan dianggap semakin agresif terhadap pajak.

            ETR yang rendah menunjukkan beban
pajak penghasilan lebih kecil dari pendapatan sebelum pajak sehingga menjadi
indikasi tingkat agresivitas pajak yang tinggi. Artinya, perusahaan membayar
beban pajak yang lebih rendah dari seharusnya.   

            Penelitian
terdahulu mengenai CSR dengan Agresivitas pajak dilakukan oleh Watson (2012).
Hasil penelitian menemukan bahwa terjadi hubungan negatif antara CSR dan
Agresivitas pajak yang menggunakan proksi tarif pajak yang berlaku (ETR). Pada
tahun 2013 Lanis dan Richardson melakukan penelitian dengan konteks terbalik
dengan hubungan yang diteliti oleh Lanis dan richardson pada tahun 2012.
Penelitian tersebut menghubungkan agresivitas pajak dengan pengungkapan CSR
dalam Konteks teori legistimasi. Penelitian tersebut membedakan sampel yang di
teliti dengan membedakan perusahaan yang agresivitas pajak dan non agresivitas
pajak. Hasil penelitian yang dilakukan secara konsisten menunjukkan hubungan
positif dan signifikan antara agresivitas pajak perusahaan dan pengungkapan CSR
sehingga membenarkan teori legitimasi dalam konteks agresivitas perusahaan.

Penelitian selanjutkan dilakukan oleh Jessica dan Agus Arianto Toly hasil
penelitian ini menunjukkan tidak adanya pengaruh signifikan antara pengungkapan
CSR terhadap Agresivitas Pajak.  

            Berdasarkan uraian di atas, peneliti tertarik untuk
melakukan penelitian dengan judul “Pengaruh Pengungkapan Corporate Social Responsibility TerhadapAgresivitas
Pajak Pada Perusahaan Pertambangan Yang Terdaftar Di BEI Periode 2014-2016”.

B. 
      Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah di atas maka rumusan
masalah yang  timbul dalam penelitian ini
adalah : Bagaimana pengaruh pengungkapan Corporate Social Responsibility terhadap Agresivitas Pajak pada
perusahaan pertambangan yang  terdaftar
di Bursa Efek Indonesia?

 

C.        Tujuan
Penelitian

Berdasarkan dari perumusan masalah, maka tujuan penelitian ini adalah
untuk mengetahui pengaruh pengungkapan  Corporate Social Responsibility terhadap
Agresivitas Pajak pada perusahaan pertambangan yang terdaftar di BEI Periode
2014-2016.

D.                    Manfaat
Penelitian

Berdasarkan
tujuan diatas, maka penelitian ini diharapkan akan memberikan manfaat bagi
semua pihak diantaranya:

1.    Bagi
Penulis

     Dapat
membantu menambah pengetahuan dalam bidang corporate
social responisibilitytentang pengaruh CSR terhadap Agresivitas Pajak

2     Bagi Perusahaan

Penelitian
ini diharapkan menjadi masukan bagi perusahaan. khususnya di Bursa Efek
Indonesia untuk menerapkan corporate
social responisibility (CSR) dengan baik.

3  Bagi Almamater

     Hasil penelitian dapat menjadi
salah satu sumber referensi untuk penelitian selanjutnya, khususnya penelitian
yang memiliki topik yang relatif sama dengan penelitian yang dilakukan .

BACK TO TOP
x

Hi!
I'm Al!

Would you like to get a custom essay? How about receiving a customized one?

Check it out